Update on HIV and AIDS Prevention Guidelines 2022

 
Sosialisasi
 
PMK Nomor 23
Tahun 2022 tentang
Penanggulangan HIV, AIDS,
dan IMS
 
Pekanbaru, 19 Juni 2023
Highlight & Update PMK 23/2022
​Terminologi
PMK 23/2022 Pasal 1
 
Highlight & Update PMK 23/2022
 
Target mencapai 
Eliminasi
HIV
 tahun 2030
 
PMK 23/2022 Pasal 4
Highlight & Update PMK 23/2022
Target terwujudnya 
Akhiri AIDS
 tahun 2030
PMK 23/2022 Pasal 4
Three Zero
 
Highlight & Update PMK 23/2022
 
PrEP dan PEP sebagai bagian dari
Strategi Pencegahan Penularan HIV
 
PMK 23/2022 Pasal 9
 
Highlight & Update PMK 23/2022
 
Post Exposure Prophylaxys (PEP) =
Profilaksis Pasca Pajanan (PPP)
 
Pemberian regimen ARV dalam
waktu 
<72 jam setelah pajanan
,
diberikan 
selama 28-30 hari 
untuk
mengurangi kemungkinan infeksi
HIV setelah seseorang 
terpajan
saat bekerja (misalnya tertusuk
jarum), atau setelah kekerasan
seksual
.
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 69-70
 
Highlight & Update PMK 23/2022
 
Pre-Exposure Prophylaxys (PrEP)
 
Pemberian regimen ARV pada kelompok berisiko sebagai upaya pencegahan tambahan 
pada
orang yang memiliki risiko tinggi tertular HIV
 dari kontak seksual dengan ODHIV.
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 69-70
 
Tes HIV
Penggunaan OFT untuk Skrining HIV
Penemuan kasus melalui penjangkauan, NP, skrining, TIPK
 
Tes HIV
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 73-74
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 75
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 76
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 77
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 78
Notifikasi Pasangan
NP wajib dilakukan pada setiap pasien yang baru terdiagnosis
PMK 23/2022 Lampiran halaman 89
Test and Treat
Same day therapy pada pasien tanpa IO
P
M
K
 
2
3
/
2
0
2
2
 
P
a
s
a
l
 
3
2
P
M
K
 
2
3
/
2
0
2
2
 
L
a
m
p
i
r
a
n
 
h
a
l
a
m
a
n
9
1
Pada pasien dengan IO, inisiasi ARV
dapat dilakukan >7 hari setelah diagnosis
Test and Treat
PMK 23/2022 Lampiran halaman 91
Transisi Nevirapin
Bila pasien TB
diberi TLD selama
on OAT
(panduan lengkap lihat
Rekomendasi Panli)
 
Test and Treat
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 91
Multi-Months Dispensing (MMD)
P
M
K
 
2
3
/
2
0
2
2
 
P
a
s
a
l
 
3
2
P
M
K
 
2
3
/
2
0
2
2
 
L
a
m
p
i
r
a
n
 
h
a
l
a
m
a
n
 
1
0
1
Kriteria pasien HIV
stabil yang dapat
diberikan MMD
Viral Load (VL)
P
M
K
 
2
3
/
2
0
2
2
 
P
a
s
a
l
 
3
2
P
M
K
 
2
3
/
2
0
2
2
 
L
a
m
p
i
r
a
n
 
h
a
l
a
m
a
n
 
9
2
Pemeriksaan VL sebagai evaluasi
pengobatan ARV
Kapan harus tes VL?
Viral Load (VL)
P
a
d
a
 
P
M
K
 
t
e
r
b
a
r
u
 
d
i
g
u
n
a
k
a
n
 
t
e
r
m
i
n
o
l
o
g
i
b
a
r
u
 
V
L
 
T
i
d
a
k
 
T
e
r
d
e
t
e
k
s
i
 
Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV
 
Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV
 
Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV
 
Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV
 
Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV
 
Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV
Gagal Terapi & Switch ARV
 
HIV Stadium Lanjut / Advance HIV D
i
sease (AHD)
 
PMK 23/2022 Pasal 30
 
K
r
i
t
e
r
i
a
 
H
I
V
 
S
t
a
d
i
u
m
 
L
a
n
j
u
t
 
HIV Stadium Lanjut / Advance HIV D
i
sease (AHD)
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 85
 
Profilaksis Kotrimoksazol (PPK)
 diberikan pada 
semua pasien HIV dengan
stadium klinis 3 dan 4
 dan/atau 
jika nilai CD4
<
200
 
sel/
μ
L
,
Dosis PPK 1x960 mg/hari
 diberikan sampai dengan CD4>200 
sel/
μ
L dua kali
berturut-turut dengan interval 6 bulan atau selama 2 tahun pada tempat
yang tidak mempunyai pemeriksaan CD4.
PPK diberikan secara rutin pada ODHIV dengan TBC aktif
 tanpa melihat
jumlah CD4. Apabila pengobatan OAT selesai dan nilai CD4 >200 sel/
μ
L,
maka pemberian kotrimoksazol dapat dihentikan, tetapi apabila CD4 < 200
sel/
μ
L, maka kotrimoksazol dapat diteruskan dengan dosis yang sama.
 
TB HIV
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 84
 
Tuberkulosis merupakan koinfeksi terbanyak dan penyebab
kematian utama ODHIV.
Risiko kejadian TBC diperkirakan antara 16-27 kali lebih besar pada
ODHIV dibandingkan mereka yang tidak terinfeksi HIV.
Faktor utama dibalik kematian TBC di antara orang dengan HIV
adalah diagnosis yang terlambat
Skrinning TBC pada ODHIV, pemberian TPT, dan pengobatan TBC
pada ODHIV dapat mencegah kematian
 
TB HIV
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 84
 
TB HIV
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 84
 
TB HIV
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 84
 
Penelusuran Pasien LTFU /
Strategi Hilang dan Tautkan Kembali (SEHATI)
 
PMK 23/2022 Pasal 30
 
PMK 23/2022 Lampiran Halaman 90
 
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 68
 
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 68
 
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)
 
PMK 23/2022 Lampiran halaman 69
 
Diskusi
 
 
Terima Kasih
Slide Note
Embed
Share

This update highlights key points from the PMK No. 23/2022 on combating HIV, AIDS, and STIs. It covers terminologies, goals for eliminating HIV and AIDS by 2030, and strategies such as PrEP and PEP. The guidelines emphasize timely interventions like Post-Exposure Prophylaxis (PEP) and Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) to reduce HIV transmission risk. Additionally, it addresses HIV testing methods and screening protocols detailed in the annexes of the PMK.

  • HIV prevention
  • AIDS prevention
  • PMK guidelines
  • PrEP
  • PEP

Uploaded on Mar 28, 2024 | 3 Views


Download Presentation

Please find below an Image/Link to download the presentation.

The content on the website is provided AS IS for your information and personal use only. It may not be sold, licensed, or shared on other websites without obtaining consent from the author. Download presentation by click this link. If you encounter any issues during the download, it is possible that the publisher has removed the file from their server.

E N D

Presentation Transcript


  1. Sosialisasi PMK Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan HIV, AIDS, dan IMS Pekanbaru, 19 J uni 2023

  2. Highlight & Update PMK 23/2022 Terminologi Istilah baru PMK 23/2022 Pasal 1

  3. Highlight & Update PMK 23/2022 Target mencapai Eliminasi HIV tahun 2030 PMK 23/2022 Pasal 4

  4. Highlight & Update PMK 23/2022 Target terwujudnya Akhiri AIDS tahun 2030 Three Zero PMK 23/2022 Pasal 4

  5. Highlight & Update PMK 23/2022 PrEP dan PEP sebagai bagian dari Strategi Pencegahan Penularan HIV PMK 23/2022 Pasal 9

  6. Highlight & Update PMK 23/2022 Post Exposure Prophylaxys (PEP) = Profilaksis Pasca Pajanan (PPP) Pemberian regimen ARV dalam waktu <72 jam setelah pajanan, diberikan selama 28-30 hari untuk mengurangi kemungkinan infeksi HIV setelah seseorang terpajan saat bekerja (misalnya tertusuk jarum), atau setelah kekerasan seksual. PMK 23/2022 Lampiran halaman 69-70

  7. Highlight & Update PMK 23/2022 Pre-Exposure Prophylaxys (PrEP) Pemberian regimen ARV pada kelompok berisiko sebagai upaya pencegahan tambahan pada orang yang memiliki risiko tinggi tertular HIV dari kontak seksual dengan ODHIV. PMK 23/2022 Lampiran halaman 69-70

  8. Tes HIV Penggunaan OFT untuk Skrining HIV Penemuan kasus melalui penjangkauan, NP, skrining, TIPK

  9. Tes HIV PMK 23/2022 Lampiran halaman 73-74

  10. PMK 23/2022 Lampiran halaman 75

  11. PMK 23/2022 Lampiran halaman 76 PMK 23/2022 Lampiran halaman 77

  12. PMK 23/2022 Lampiran halaman 78

  13. Notifikasi Pasangan PMK 23/2022 Lampiran halaman 89 NP wajib dilakukan pada setiap pasien yang baru terdiagnosis

  14. Test and Treat Same day therapy pada pasien tanpa IO PMK 23/2022 Lampiran halaman91 PMK 23/2022 Pasal 32 Pada pasien dengan IO, inisiasi ARV dapatdilakukan >7 hari setelah diagnosis

  15. Test and Treat Bila pasien TB diberi TLD selama on OAT (panduan lengkap lihat Rekomendasi Panli) Transisi Nevirapin PMK 23/2022 Lampiran halaman 91

  16. Test and Treat PMK 23/2022 Lampiran halaman 91

  17. Multi-Months Dispensing (MMD) PMK 23/2022 Pasal 32 PMK 23/2022 Lampiran halaman 101 Kriteria pasien HIV stabil yang dapat diberikan MMD

  18. Viral Load (VL) PMK 23/2022 Pasal 32 Pemeriksaan VL sebagai evaluasi pengobatan ARV PMK 23/2022 Lampiran halaman 92 Kapan harus tes VL?

  19. Viral Load (VL) Pada PMK terbaru digunakan terminologi baru VL Tidak Terdeteksi

  20. Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV Regim en Tipe Toksisitas Faktor Risiko Pilihan Substitusi Riwayat penyakit ginjal Lansia IMT <18,5 atau BB <50kg pada dewasa DM tak terkontrol Hipertensi tak terkontrol Penggunaan bersama obat nefrotoksik lain atau boosted PI Disfungsi Tubulus Renal SindromFanconi Dewasa AZT atau TDF yang disesuaikan dosis renal Riwayat osteomalasia & fraktur patologis Ada factor risiko osteoporosis Defisiensi vitamin D TDF Anak AZT atau ABC Menurunnya densitas tulang Asidosis Laktat Hepatomegali dengan steatosis Penggunaan nukleosida analog yg lama Obesitas Penyakit hati J ika TDF dihentikan karena toksisitas lainnya pada koinfeksi Hepatitis B Gunakan alternatif obat Hepatitis B lain (entecavir) Eksaserbasi Hepatitis B

  21. Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV Regim en Tipe Toksisitas Faktor Risiko Pilihan Substitusi Dewasa (lini 2) AZT dosis rendah 2x250 ABC, atau rujuk ke layanan lebih tinggi Anemia atau neutropenia berat Riwayat anemia/neutropenia sebelumterapi CD4 <200 Intoleransi saluran cerna berat Anak ABC atau TDF (TDF jika usia >3 tahun) AZT Asidosis Laktat Hepatomegali dengan steatosis Miopati, lipoatrofi atau lipodistrofi IMT >25 atau BB >75kg (dewasa) Penggunaan nukleosida analog yg lama

  22. Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV Regim en Tipe Toksisitas Faktor Risiko Pilihan Substitusi Toksisitas SSP persisten (seperti mimpi buruk, depresi, kebingungan, halusinasi, psikosis) Riwayat gangguan mental atau depresi sebelumnya Penggunaan siang hari Pertimbangkan penggunaan EFV dosis rendah (400 mg/hari) Kejang Riwayat kejang EFV Riwayat penyakit liver sebelumnya Ko-infeksi VHB dan VHC Penggunaan bersama obat hepatotoksik lain J ika pasien tidak dapat menoleransi EFV, gunakan DTG Hepatotoksisitas Hipersensitivitas obat Ginekomastia pada pria

  23. Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV Regim en Tipe Toksisitas Faktor Risiko Pilihan Substitusi Riwayat penyakit liver sebelumnya Ko-infeksi VHB dan VHC Penggunaan bersama obat hepatotoksik lain J umlah CD4 baseline tinggi: CD4 >250 sel/ L pada perempuan CD4 >400 sel/ L pada pria Substitusi dengan EFV600 atau EFV400, Hepatotoksisitas NVP J ika tidak dapatjuga, gunakan DTG Hipersensitivitas obat

  24. Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV Regim en Tipe Toksisitas Faktor Risiko Pilihan Substitusi Gangguan neuropsikiatri Usia tua, penggunaan bersama ABC, perempuan Umumnya ringan dan membaik kemudian; Terapi simtomatik Gastrointestinal Hepatotoksisitas Ko-infeksi VHC dan VHB DTG Substitusi dengan EFV (lini 1) atau LPV/r (lini 2) Hipersensitivitas obat Tidak disubstitusi, tatalaksana gizi dan latihan jasmani Penambahan berat badan

  25. Pemantauan Toksisitas & Substitusi ARV Regim en Tipe Toksisitas Faktor Risiko Pilihan Substitusi Diare Tatalaksana gizi dan latihan jasmani, simtomatik Sindrommetabolic, dislipidemia Lipoatrofi Ko-infeksi VHC dan VHB Rujuk Gangguan konduksi jantung Sindrompemanjangan interval QT kongenital Hipokalemia Penggunaan bersama obat yang dapat memperpanjang interval PR atau QT lainnya LPV/r EKG abnormal (PR dan QT interval prolongation, torsade de pointes) Stop obat lain yang memperpanjang interval PR atau QT Riwayat penyakit hati sebelumnya Ko-infeksi VHB dan VHC Penggunaan bersama obat hepatotoksik lainnya Hepatotoksisitas Rujuk

  26. Gagal Terapi & Switch ARV

  27. HIV Stadium Lanjut / Advance HIV Disease (AHD) Kriteria HIV Stadium Lanjut Dewasa, remaja, dan anak usia > 5 tahun: jumlah CD4 <200 sel/mm3atau menunjukkan gejala klinis stadium 3 atau 4 WHO saat perawatan. Semua anak < 5 tahun dengan HIV dianggap mengidap penyakit HIV lanjut terlepas dari kondisi imun dan klinis PMK 23/2022 Pasal 30

  28. HIV Stadium Lanjut / Advance HIV Disease (AHD) Profilaksis Kotrimoksazol (PPK) diberikan pada semua pasien HIV dengan stadium klinis 3 dan 4 dan/atau jika nilai CD4<200 sel/ L, Dosis PPK 1x960 mg/hari diberikan sampai dengan CD4>200 sel/ L dua kali berturut-turut dengan interval 6 bulan atau selama 2 tahun pada tempat yang tidak mempunyai pemeriksaan CD4. PPK diberikan secara rutin pada ODHIV dengan TBC aktif tanpa melihat jumlah CD4. Apabila pengobatan OAT selesai dan nilai CD4 >200 sel/ L, maka pemberian kotrimoksazol dapat dihentikan, tetapi apabila CD4 < 200 sel/ L, maka kotrimoksazol dapat diteruskan dengan dosis yang sama. PMK 23/2022 Lampiran halaman 85

  29. TB HIV Tuberkulosis merupakan koinfeksi terbanyak dan penyebab kematian utama ODHIV. Risiko kejadian TBC diperkirakan antara 16-27 kali lebih besar pada ODHIV dibandingkan mereka yang tidak terinfeksi HIV. Faktor utama dibalik kematian TBC di antara orang dengan HIV adalah diagnosis yang terlambat Skrinning TBC pada ODHIV, pemberian TPT, dan pengobatan TBC pada ODHIV dapat mencegah kematian PMK 23/2022 Lampiran halaman 84

  30. TB HIV PMK 23/2022 Lampiran halaman 84

  31. TB HIV PMK 23/2022 Lampiran halaman 84

  32. TB HIV PMK 23/2022 Lampiran halaman 84

  33. Penelusuran Pasien LTFU / Strategi Hilang dan Tautkan Kembali (SEHATI) PMK 23/2022 Lampiran Halaman 90 PMK 23/2022 Pasal 30

  34. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) PMK 23/2022 Lampiran halaman 68

  35. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) PMK 23/2022 Lampiran halaman 68

  36. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) PMK 23/2022 Lampiran halaman 69

  37. Diskusi

  38. Terima Kasih

Related


More Related Content

giItT1WQy@!-/#giItT1WQy@!-/#giItT1WQy@!-/#giItT1WQy@!-/#giItT1WQy@!-/#giItT1WQy@!-/#giItT1WQy@!-/#